Kisah Sulaiman bin Yasar
Sulaiman bin Yasar ketika itu keluar dari Madinah untuk naik haji. Dan ketika itu ia bersama seorang teman, sehingga keduanya sampailah di Abwa’. Lalu temannya bangun berdiri dan mengambil alas meja dan pergi ke pasar untuk membeli sesuatu. Dan Sulaiman duduk dalam kemah.
Sulaiman adalah termasuk orang yang paling cantik mukanya dan paling wara’. Lalu ia dilihat oleh seorang wanita desa dari puncak bukit. Kemudian wanita itu turun menghampiri Sulaiman dan berdiri dihadapannya.
Wanita itu memakai kain tudung dimukanya dan dua sarung tangan. Lalu dibukanya kain tudung tersebut, hingga kemudian menampaklah mukanya, yang seakan-akan mukanya itu seperti bulan purnama, dan wanita itu lalu berkata,... “Berilah aku kepuasan!..”
Sulaiman menyangka, bahwa wanita itu menghendaki makanan. Lalu ia bangun berdiri mengambil makanan di atas alas meja, untuk diberikannya kepada wanita tersebut.
Wanita itu menjawab,... “Aku tidak bermaksud kepada yang ini. Aku bermaksud akan apa yang dari laki-laki kepada isterinya.”
Lalu Sulaiman menjawab, “Rupanya Iblis menyediakan engkau kepadaku.”
Kemudian Sulaiman meletakkan kepalanya diantara dua lututnya dan beliau terus menangis dengan suara yang keras. Ia menangis terus menerus tiada berhenti.
Maka sewaktu wanita tadi melihat demikian, lalu ia menurunkan kain tudung muka ke atas mukanya dan terus pergi kembali. Sehingga sampailah kepada keluarganya.
Teman sulaiman pun datang. Lalu ia melihat Sulaiman kedua matanya sudah bengkak lantaran menangis dan suaranya sudah putus-putus. Lalu bertanya “Apakah yang membuat engkau menangis?..”
Teman itu terus bertanya, sehingga Sulaiman menceritakan kepadanya berita tentang wanita desa itu. Lalu temannya itu meletakkan alas meja dan terus menangis dengan suara keras. Lalu Sulaiman bertanya, “Apakah yang membawa engkau kepada menangis?..” Teman itu menjawab,...“Adalah aku lebih berhak untuk menangis dibandingkan engkau. Karena aku takut sekiranya aku berada pada tempat engkau niscaya aku tidak akan sabar terhadap wanita itu!..” Maka senantiasalah keduanya pun menangis.
Tatkala Sulaiman sudah sampai di Makkah, lalu ia mengerjakan sa’i dan thawaf kemudian datang ke Hajaraswad. Lalu duduk dengan membelitkan kain dari pinggang ke lutut. Matanya meminta tidur, lalu ia tertidur. Maka ia bermimpi bertemu dengan seorang lelaki yang cantik parasnya dan bertubuh tinggi semampai, mempunyai pembawaan yang bagus dan wangi yang harum. Sulaiman lalu bertanya kepada laki-laki tersebut,..“Kiranya Allah mencurahkan rahmat kepada engkau. Siapakah engkau ini?.” Laki-laki itu menjawab, “Aku yusuf!..” Sulaiman bertanya lagi, “Yusuf Siddiq” Orangh itu menjawab “Ya..”
Lalu Sulaiman menyambung “Keadaan engkau dengan wanita yang mulia itu sungguh menakjubkan.”
Maka Yusuf menjawab, “Keadaan engkau dengan wanita Abwa’ itu lebih menakjubkan lagi.”
Sulaiman adalah termasuk orang yang paling cantik mukanya dan paling wara’. Lalu ia dilihat oleh seorang wanita desa dari puncak bukit. Kemudian wanita itu turun menghampiri Sulaiman dan berdiri dihadapannya.
Wanita itu memakai kain tudung dimukanya dan dua sarung tangan. Lalu dibukanya kain tudung tersebut, hingga kemudian menampaklah mukanya, yang seakan-akan mukanya itu seperti bulan purnama, dan wanita itu lalu berkata,... “Berilah aku kepuasan!..”
Sulaiman menyangka, bahwa wanita itu menghendaki makanan. Lalu ia bangun berdiri mengambil makanan di atas alas meja, untuk diberikannya kepada wanita tersebut.
Wanita itu menjawab,... “Aku tidak bermaksud kepada yang ini. Aku bermaksud akan apa yang dari laki-laki kepada isterinya.”
Lalu Sulaiman menjawab, “Rupanya Iblis menyediakan engkau kepadaku.”
Kemudian Sulaiman meletakkan kepalanya diantara dua lututnya dan beliau terus menangis dengan suara yang keras. Ia menangis terus menerus tiada berhenti.
Maka sewaktu wanita tadi melihat demikian, lalu ia menurunkan kain tudung muka ke atas mukanya dan terus pergi kembali. Sehingga sampailah kepada keluarganya.
Teman sulaiman pun datang. Lalu ia melihat Sulaiman kedua matanya sudah bengkak lantaran menangis dan suaranya sudah putus-putus. Lalu bertanya “Apakah yang membuat engkau menangis?..”
Teman itu terus bertanya, sehingga Sulaiman menceritakan kepadanya berita tentang wanita desa itu. Lalu temannya itu meletakkan alas meja dan terus menangis dengan suara keras. Lalu Sulaiman bertanya, “Apakah yang membawa engkau kepada menangis?..” Teman itu menjawab,...“Adalah aku lebih berhak untuk menangis dibandingkan engkau. Karena aku takut sekiranya aku berada pada tempat engkau niscaya aku tidak akan sabar terhadap wanita itu!..” Maka senantiasalah keduanya pun menangis.
Tatkala Sulaiman sudah sampai di Makkah, lalu ia mengerjakan sa’i dan thawaf kemudian datang ke Hajaraswad. Lalu duduk dengan membelitkan kain dari pinggang ke lutut. Matanya meminta tidur, lalu ia tertidur. Maka ia bermimpi bertemu dengan seorang lelaki yang cantik parasnya dan bertubuh tinggi semampai, mempunyai pembawaan yang bagus dan wangi yang harum. Sulaiman lalu bertanya kepada laki-laki tersebut,..“Kiranya Allah mencurahkan rahmat kepada engkau. Siapakah engkau ini?.” Laki-laki itu menjawab, “Aku yusuf!..” Sulaiman bertanya lagi, “Yusuf Siddiq” Orangh itu menjawab “Ya..”
Lalu Sulaiman menyambung “Keadaan engkau dengan wanita yang mulia itu sungguh menakjubkan.”
Maka Yusuf menjawab, “Keadaan engkau dengan wanita Abwa’ itu lebih menakjubkan lagi.”