Taklif dan Al-Balwa
Dituturkan pada zaman awal kenabian bahwa seseorang dari generasi awal (al-mutaqaddimun), yang diturunkan wahyu kepada mereka, memikirkan taklif dan ujian (al-balwa). Belum tampak baginya aspek hikmah dalam hal itu. Allah Ta’ala memerintahkan kepadanya agar ia merenungkanNya dan hamba-hambaNya. Maka ia pun mulai bermunajat kepada Tuhannya, dalam khalwatnya dengan batin dan lisannya. Ia berkata,.. ”Wahai Tuhanku, Engkau ciptakan aku, tetapi Engkau tidak berkonsultasi denganku. Kemudian, Engkau matikan aku, tetapi Engkau tidak bermusyawarah denganku. Engkau memerintahku dan melarangku, tetapi Engkau tidak mencenderungkanku. Engkau kuasakan atasku hawa nafsu yang membinasakan dan setan yang menyesatkan. Engkau turutkan dalam diriku syahwat-syahwat (keinginan) yang terpancang. Engkau jadikan diantara kedua mataku dunia terhias. Kemudian, Engkau takutkan padaku, dan Engkau merintangiku (untuk memperolehnya) dengan janji ...