Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ma'rifat

Cahaya Iman

"Demikian pula halnya dengan cahaya iman ketika masuk ke dalam hati. Siramannya adalah ilmu tentang Allah. Ketika ilmu tentang Allah semakin bertambah, hati semakin hidup dan rububiyyah-Nya semakin tersingkap. Bajanya adalah amal soleh, yaitu melakukan kebaikan dan menjauhi larangan. Ketika kamu berbuat baik, cahaya amalmu bergabung dengan cahaya makrifat sehingga cahayamu bertambah kuat. Tatkala amal soleh diangkat ke hadirat Allah s.w.t., Dia melihatnya sehingga amal itu bersinar. Amal soleh adalah cahaya. Akarnya berada di hati dan puncaknya berada di sisi Allah s.w.t. Bila puncaknya bercahaya kerana tatapan Allah s.w.t., cahaya itu sampai ke akar. Cahayanya bercampur dengan cahaya makrifat hingga hati menjadi bersih." -- "Adapun yang membuatnya terkena sinaran matahari adalah melepaskan seluruh ikatan syahwat. Jika hawa nafsu telah lenyap dari hati, hati laksana rumah dengan atap terbuka sehingga sinar matahari langsung menerpa pohon di dalamnya. Batang pohon m...

Mengenal Nafs, mengenal Rabb

Rasulullah saw bersabda,.. “Barangsiapa mengenal Jiwa (nafs)nya, Kelak ia mengenal akan Rabb (Tuhan) nya.” (Ihya Ullumiddin)

Awal agama

Imam Ali ra. berkata,… “Awwaluddina Ma’rifatullah.” “Awal (dari seseorang) ber-Ad-Diin (beragama) adalah (ketika ia) Ma’rifatullah (mengenal Allah).”

Buah ma'rifat

Diriwayatkan ketika itu Nabi Isa as. berlalu dihadapan seorang lelaki yang buta, yang berpenyakit sopak, tua bangka, kedua lembungnya lumpuh dan dagingnya sudah melepuh berguguran karena penyakit kusta. Lelaki tersebut kemudian berucap,..  “Segala puji bagi Allah,… Yang mendatangkan sehat wal’afiat bagiku,.. Dari apa yang diujikanNya akan kebanyakan makhlukNya.” Nabi Isa as lalu berkata kepada orang itu,.. “Wahai orang ini!.. Manakah sesuatu dari ujian yang aku lihat tersingkir daripadamu?..” Lelaki itu menjawab,..“Wahai Ruh Allah!.. Aku lebih baik dari orang yang tidak dijadikan oleh Allah dalam hatinya, apa yang dijadikanNya dalam hatiku akan ma’rifat kepadaNya.” (Ihya Ullumiddin)