Cahaya Iman

"Demikian pula halnya dengan cahaya iman ketika masuk ke dalam hati. Siramannya adalah ilmu tentang Allah. Ketika ilmu tentang Allah semakin bertambah, hati semakin hidup dan rububiyyah-Nya semakin tersingkap. Bajanya adalah amal soleh, yaitu melakukan kebaikan dan menjauhi larangan.

Ketika kamu berbuat baik, cahaya amalmu bergabung dengan cahaya makrifat sehingga cahayamu bertambah kuat. Tatkala amal soleh diangkat ke hadirat Allah s.w.t., Dia melihatnya sehingga amal itu bersinar. Amal soleh adalah cahaya. Akarnya berada di hati dan puncaknya berada di sisi Allah s.w.t. Bila puncaknya bercahaya kerana tatapan Allah s.w.t., cahaya itu sampai ke akar. Cahayanya bercampur dengan cahaya makrifat hingga hati menjadi bersih."

--

"Adapun yang membuatnya terkena sinaran matahari adalah melepaskan seluruh ikatan syahwat. Jika hawa nafsu telah lenyap dari hati, hati laksana rumah dengan atap terbuka sehingga sinar matahari langsung menerpa pohon di dalamnya. Batang pohon menjadi kuat, cabangnya banyak, dan buahnya baik. Ia tak ubahnya seperti tanaman dalam bejana berisi tanah. Tanaman itu terus tumbuh kerana disiram dan menerima cahaya matahari. Kerana sangat besar, ia mengisi penuh ruangan bejana sehingga tidak ada tempat lagi untuk tumbuhan lain.

Begitulah makrifat ketika akarnya begitu kuat menancap dalam hati. Ia terus tumbuh seiring meningkatnya pengetahuan tentang sifat-sifat dan aturan Allah s.w.t., bertambahnya amal baik, serta pemusnahan segala hambatan dan gangguan. Akhirnya, hati penuh dengan makrifat. Cahaya makrifat yang telah ada dalam lubuk hati ditambah dengan cahaya lain, yaitu: cahaya makrifat dan cahaya amal. Hati menjadi penuh dengan cahaya dan tidak ada satu celah pun yang kosong dari cahaya. Dalam keadaan demikian, bagaimana mungkin gelapnya hawa nafsu dapat masuk ke dalamnya?...

Jika hati tidak ditumbuhkan dengan cahaya amal (shaleh), cahayanya hanya sebatas cahaya makrifat awal yang belum memenuhi hati, sehingga masih ada, bahkan banyak, ruangan kosong dalam hati. Dalam keadaan seperti itulah kepekatan hawa nafsu masuk lalu bercampur dengan cahaya makrifat, sehingga cahaya makrifat yang sudah ada pun berkurang. Bahkan, bisa saja cahaya itu habis lenyap tak tersisa. Semoga Allah s.w.t. melindungi kita dari hal itu."

[Al-Imam Al-Hakim Al-Tirmidzi r.a.]

Postingan populer dari blog ini

Rahmat

Kebaikan

Kemenangan