Jihad - Perang Suci

Wahai Saudaraku, ijinkan saya menceritakan sebuah kisah sehingga anda dapat lebih mudah memahami makna Jihad atau Perang Suci.

Ketika Tuhan menciptakan Adam dari tanah, Dia menempatkan amanat besar berupa cahaya yang berasal dari Nur Muhammad di dahi Adam. Tuhan menyatakan bahwa manusia akan bisa memahami hal-hal yang tidak pernah akan bisa dipahami oleh malaikat maupun makhluk-makhluk lainnya. Pemimpin kaum jin (iblis) saat itu memperhatikan dan mendengarkan. Setelah ia mendengar pernyataan Tuhan itu, timbul rasa iri, sombong dan dendam. Sifat-sifat yang timbul itu seketika merubah iblis menjadi setan, ia mulai menentang Tuhan dan menyombongkan diri kepada Adam, "aku lebih mulia dibanding kamu, kamu terbuat dari tanah sedangkan aku dari api. Jika kamu menundukkan diri di hadapanku maka aku akan membantumu, tetapi jika kamu memposisikan lebih tinggi dariku, maka aku akan mencelakakanmu dan membuatmu amat menderita."


Lalu cahaya yang ada di dahi Adam memandang ke arah setan, dan ketika setan melihat pancarannya, timbul kekhawatiran, iri dan dendam yang lebih besar. Sekali lagi ia melecehkan Adam, "'kamu yang hanya terbuat dari tanah, berani-beraninya memandangku seperti ini! Karena kamu ditempatkan lebih tinggi dariku, maka aku akan membuatmu menderita sampai akhir." Lalu setan meludahi Adam, sehingga sifat-sifat beracun dari setan memasuki Adam dan menyebar ke sekujur tubuh. Sifat-sifat itu menjadi kegelapan pikiran dan menjadi tirai di dalam qalb Adam.

Setelah melihat kejadian itu Allah memerintahkan Jibril untuk mencongkel bekas ludah setan di tubuh Adam, yang merupakan bintik neraka. Bekas congkelan itulah yang menjadi pusar di perut Adam. Walaupun ludah setan sudah dibuang namun racunnya terlanjur masuk ke dalam tubuh Adam dan juga keturunannya. Hal ini menimbulkan penderitaan tanpa akhir bagi umat manusia. Karena sifat setan itulah iblis dan pengikutnya diusir dari sorga.

Ini adalah masalah besar. Jihad yang paling utama adalah memerangi sifat-sifat setan seperti ini. Seperti halnya setan diusir dari sorga karena menentang Yang Maha Kuasa, maka kita pun harus mengusir sifat-sifat setan dalam diri kita, segala sifat yang menentang Tuhan. Sifat-sifat buruk itu akan membawa kita ke neraka.

Kita tidak boleh saling membunuh. Ketika seorang anak memiliki sifat buruk, apa yang dilakukan ibunya? Ia akan mendidik anaknya sehingga berkembang sifat-sifat baik anaknya. Begitu juga Allah, Dia mengajari kita untuk dapat membuang sifat buruk kita dan membimbing kita ke Jalan Yang Lurus.

Wahai Saudaraku, "jihad" yang dikobarkan anak-anak Adam masa kini bukanlah jihad yang sebenarnya. Menghilangkan nyawa orang lain bukanlah jihad yang sebenarnya. Perang seperti itu akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak. "Jihad" yang saat ini dikobarkan sudah bercampur aduk dengan kepentingan pribadi, golongan, atau duniawi.

Jihad yang sebenarnya adalah untuk memuji Tuhan dan melawan sifat setan dalam diri kita sendiri. Terdapat empat ratus trilyun sepuluh ribu musuh spiritual dalam diri kita: yaitu sifat-sifat setan seperti permusuhan, penipuan, iri, dengki, khianat, rasa keterpisahan antara "aku" dan "kamu", antara "milikku" dan "milikmu", meracuni, mencuri, nafsu, pembunuhan, kepalsuan, arogansi, karma, ilusi, mantra dan sihir, keinginan duniawi, kenikmatan seksual dan emas. Ini semua adalah musuh yang memisahkan kita dari Allah, dari kebenaran, dari pengabdian, dari tindakan dan pikiran yang baik, dari keimanan, keyakinan dan keteguhan. Ini semua adalah musuh yang memecah belah anak-anak Adam dan menghalangi kita dari kedamaian.

Kita tidak akan bisa mendapatkan kedamaian dalam hati kita hingga kita memenangi jihad ini, hingga kita menaklukkan musuh yang muncul dari dalam diri kita sendiri melalui keimanan, keyakinan dan keteguhan yang disertai dengan sabar, syukur, tawakkal dan Alhamdulillah.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar."
(QS. Ali 'Imran[3]:142)

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Kahfi[18]:50)

Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya setan itu mengalir dalam diri anak Adam laksana aliran darah."
(HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW bersabda pada saat pelaksanaan Haji Wada':
"... mujahid adalah ia yang melakukan jihad melawan dirinya sendiri demi mentaati Allah."
(HR Tirmidhi, Ahmad, Tabarani, Ibn Majah, al-Hakim & Quda`i)

Petunjuk tentang Jihad kepada Rasulullah SAW

Pada saat masih di Mekkah, Nabi SAW dan para sahabat terus menerus mendapat gangguan dari kaum yang tidak menerima Allah dan rasulNya. Tetapi dg sabar dan syukur, Nabi menerima segala penderitaan yg dialami dan tetap menasihati para sahabat utk sabar dan tawakkal.  Namun demikian untuk melepaskan diri dari penderitaan, Nabi dan para sahabat akhirnya melakukan hijrah (sehingga disebut kaum Muhajirin) ke Madinah. Banyak penduduk Medinah (disebut kaum Anshar) dengan mudah menerima Islam, dan kaum muhajirin dapat menemukan kedamaian di sana. Ada beberapa orang munafik dan pembuat onar yang menghasut dan menyebar isyu kepada Nabi dan para sahabat, "orang-orang Mekkah ingin memerangi kalian, mereka menghancurkan rumah dan harta yang kalian tinggalkan di Mekkah. Mereka membunuh istri dan anak-anak kalian serta melukai saudara-saudara kalian."

Mendengar isyu ini beberapa sahabat memohon kepada Nabi, wahai Rasul, orang-orang Mekkah itu membuat kita menderita, mereka melukai keluarga kita, mengambil harta kita, menghancurkan rumah kita dan terus mengejar-ngejar kita. Sekarang mereka menyebut kita pengecut karena melarikan diri, padahal kita adalah pemberani, kita harus menjaga kehormatan dan martabat kita. Kita sudah cukup lama bersabar, sekarang kita harus melawan!"

Para sahabat berkali-kali meminta Nabi untuk mulai berperang, tetapi Nabi tidak mengijinkan. Hati Nabi menangis dan terus berdo'a agar Allah memberikan keteguhan iman dan menganugerahkan ilmu-Nya dan berdo'a supaya Allah membalikkan hati orang-orang yang menentang.  Satu-satunya pedang yang dipegang Nabi adalah pedang Kasih sayang, pedang keimanan, keyakinan dan Keteguhan, pedang sabar, syukur, tawakkal dan Alhamdulillah.

Kemudian setelah beberapa waktu, Hamzah menghadap Nabi dan meminta hal sama, namun Nabi tetap tidak mengijinkan. Nabi selalu menjawab, "Engkau tidak boleh melakukan ini tanpa ijin Allah, dan Allah belum mengijinkan. Karena itu aku juga tidak bisa memberi ijin. Perang yang sebenarnya di dalam Islam adalah perang melawan keinginan-keinginan rendah - segala keburukan di dalam diri kita yang merupakan musuh yang nyata di akhirat kelak."

Tetapi tetap saja para sahabat berisikeras, "Kita adalah para pemberani, bagaimana kita bisa hidup dengan kehormatan direndahkan seperti ini?.."

Lalu ketika Nabi terdiam, Allah menjawab, "wahai Muhammad, beritahu sahabat-sahabatmu supaya memulai perang di dalam hati mereka sendiri, untuk membuang segala keburukan dalam hati. Sahabat-sahabatmu perlu memahami hal ini."

Kemudian Nabi menyampaikan hal ini kepada para sahabat,
"Saudara-saudaraku, Allah telah berkata bahwa jika kalian ingin melakukan perang suci, maka tugas pertama adalah berperang melawan pasukan musuh yang mengancam dari dalam diri sendiri. Hati kalian harus terlebih dahulu diterima oleh-Nya. Kalian harus menyucikan hati dengan mentaati aturan Allah untuk membuang keburukan yang menyelimuti hati kalian yang bisa menghancurkan kalian. Jadikan hati bercahaya, berilah hatimu makanan dari langit yang merupakan kekayaan Allah. Jauhi segala larangan-Nya.

Allah Ta'ala berkata,
"Hanya mereka yang memakan makanan dari-Ku yang akan terpuaskan. Makanan yang dihalalkan bagi hati adalah: ilmu-Ku, 99 asma-Ku, kualitas & tindakan-Ku, sabar syukur kepada-Ku, berserah diri & percaya kepada-Ku serta memuji Aku. Hanya itu yang bisa memuaskan rasa lapar. Melalui malaikat-Ku Aku akan menjaga mereka yang menyucikan hati, menjaga mereka yang dari dalam dirinya memunculkan kualitas kebaikan-Ku."

"Wahai Muhammad, Aku akan melepas para malaikat untuk menjagamu dari pasukan Habib bin Malik kiriman Abu Jahl. Setiap malaikat itu memiliki 3000 kepala dan 6000 tangan yang dilengkapi dengan senjata. Kamu akan bisa melihat mereka. Majulah Muhammad! Kamu tidak perlu takut bila kamu dalam kondisi Iman-Islam. Mereka yang menjadikan-Ku pelindung tidak akan bisa dibinasakan oleh dunia ini, tetapi mereka yang mencari perlindungan kepada selain-Ku akan bisa dibinasakan. Selama mereka masih menyimpan dunia dalam hati mereka, maka mereka akan dibinasakan oleh dunia. Itu pasti. Katakan ini kepada pengikutmu."

"Katakan kepada pengikutmu bahwa jika sesorang hanya berniat menghilangkan nyawa orang lain, adalah nyawa saudara sendiri yang ia hilangkan. Dan sebagai balasannya, orang lain pun akan berbalik membinasakannya. Manusia mempunyai pilihan untuk menjadi seperti binatang atau menjadi seperti Tuhannya! Manusia punya potensi untuk menjadi insan sejati. Bia dia menjadi 'Adam', maka Aku akan mengampuni dosanya dan menjaganya, seperti Aku menjaga Adam."

"Muhammad, katakan kepada pengikutmu, dahulunya mereka berada dalam kegelapan. Tetapi dengan kalimah-Ku mereka menjadi pengikutmu. Abu Bakr, 'Umar, 'Utsman dan Hamzah, dahulunya berada dalam kegelapan. Tetapi coba lihat mereka sekarang! Karena itu, apakah dibenarkan membinasakan orang lain yang saat ini masih dalam kegelapan?"

Pada akhirnya Allah Ta'ala memberikan ijin-Nya, 
"Baiklah, katakan kepada pengikutmu untuk memulai perang suci. Tetapi, jangan demi membela kebanggaan diri bahwa kamu adalah pemberani. Perangilah hanya orang yang memerangimu. Kamu dilarang merampas harta orang lain, dilarang mengganggu wanita-wanita mereka atau anak-anak mereka, dilarang merusak rumah, tanaman, ataupun ternak-ternak mereka. Jangan membunuh musuh yang telah lari atau yang sudah terjatuh dari pertempuran. Hanya kepada musuh yang mendatangimu dengan pedang di tangannya, kamu boleh membela diri."

Kita harus memikirkan hal ini.

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
(QS. Al-Baqarah[2]:190)

-----
Satu hari ketika 'Ali bin Abi Thalib sedang bertempur, pedang musuhnya patah dan orangnya terjatuh. 'Ali lalu mengarahkan pedangnya ke dada orang itu dan berkata, "Andaikata kau masih memegang pedang, aku akan melanjutkan perkelahian ini, tetapi karena pedangmu sudah patah, aku tidak bisa menyerangmu lagi."

Orang itu berteriak menimpali,  "Jika saja masih memegang pedang, aku akan memotong tangan dan kakimu."

"Baiklah kalau begitu." 'Ali kemudian memberikan pedangnya kepada orang itu. "Apa yang kamu lakukan?" Tanya orang itu keheranan. "Bukankah aku ini musuhmu?"

'Ali memandang mata orang itu sambil berkata, "Kamu sudah berjanji bahwa jika kamu memegang pedang,  kamu akan membunuhku. Sekarang kamu memegang pedangku, maka majulah dan seranglah aku." Namun orang itu tidak kuasa untuk menyerang 'Ali. 'Ali menjelaskan, "Tadi itu adalah kebodohan dan arogansimu yang berbicara. Dalam kerajaan Allah, tidak ada pertempuran ataupun permusuhan antara kau dan aku, kita adalah saudara. Peperangan yang sebenarnya adalah antara kearifan dan kebodohan, antara kebenaran dan kepalsuan. Kau dan aku baru saja menyaksikan pertempuran itu. Kau adalah saudaraku, jika tadi aku menyerangmu, maka aku akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak."

"Inikah cara Islam?" Tanya orang itu.
"Ya," jawab 'Ali. "Ini semua adalah aturan Allah Yang Maha Perkasa, Yang Maha Esa."

Segera orang berlutut di kaki 'Ali dan memohon, "Ajarkan aku Kalimah Syahadat."

Hal serupa kembali terjadi saat pertempuran yang lain. 'Ali menjatuhkan lawannya, lalu menginjakkan kakinya di atas dada lawan, dan mengarahkan pedangnya ke leher lawan. Tapi lagi-lagi 'Ali tidak membunuhnya.

"Mengapa kau tidak bunuh aku?" Orang itu berteriak. "Aku adalah musuhmu. Mengapa kau cuma berdiri saja?" Lalu orang itupun meludahi wajah 'Ali.

Awalnya 'Ali naik darah, namun kemudian 'Ali melepaskan kakinya dari dada orang itu serta mengesampingkan pedangnya. "Aku bukanlah musuhmu," 'Ali menjawab. "Musuh yang sebenarnya adalah sifat-sifat buruk dalam diri kita. Kau adalah saudaraku, tapi kau malah meludahi mukaku. Saat kau meludahi aku, aku naik darah, dan arogansi 'ke-aku-anku' timbul. Jika saja saat itu aku membunuhmu, maka aku akan menjadi seorang pendosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi setan, yang sebenarnya aku musuhi. Kejahatan itu akan terekam atas namaku, dan aku harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kelak. Itulah mengapa aku tak bisa membunuhmu."

"Jadi, tidak ada permusuhan antara kau dan aku?" Orang itu bertanya. "Tidak ada. Ini adalah pertempuran antara kearifan dan kebodohan, antara kebenaran dan kepalsuan," 'Ali menjelaskan. "Walaupun kau meludahiku dan walaupun aku ingin sekali membunuhmu, aku tak bisa melakukannya."

"Dari mana datangnya aturan seperti itu?"

"Ini adalah aturan dari Allah. Inilah Islam." Segera saja orang itu berlutut di kaki 'Ali dan lalu diajari Kalimah Syahadat.

(Diterjemahkan oleh kang Lili Gojali dari buku Islam & World Peace: Explanations of A Sufi karya M.R. Bawa Muhaiyaddeen, re-post oleh Mas Imam Suhadi)

Postingan populer dari blog ini

Rahmat

Kebaikan

Kemenangan