Mu'amallah yang kesasar
Dikatakan kepada Abdul wahid bin Zaid,..
“Disini ada seorang lelaki yang telah mengerjakan ibadah selama 50 tahun. Lalu Abdul wahid menghampiri orang itu. Lalu beliau berkata kepadanya,..“Wahai kekasihku!... ceritakanlah kepadaku dari keadaanmu (haal), Adakah engkau merasa puas dengan yang demikian?..”
Abdul Wahid lalu berkata,…
“Jikalau tidaklah aku ini malu kepadamu, niscaya aku terangkan kepadamu, bahwa mu’amallah yang engkau lakukan selama 50 tahun itu kesasar. Artinya, tidak terbuka bagi engkau akan pintu hati, yang dimana kelak engkau meningkat kepada derajat-derajat kedekatan dengan amalan hati. (bila kelak demikian) sesungguhnya engkau terhitung pada lapisan ashhabul yamin (golongan kanan). Kelebihanmu daripadanya itu pada amal perbuatan angota badan, yang itu adalah kelebihan bagi orang-orang kebanyakan (awwam).”
“Disini ada seorang lelaki yang telah mengerjakan ibadah selama 50 tahun. Lalu Abdul wahid menghampiri orang itu. Lalu beliau berkata kepadanya,..“Wahai kekasihku!... ceritakanlah kepadaku dari keadaanmu (haal), Adakah engkau merasa puas dengan yang demikian?..”
Lelaki itu menjawab,.. “Tidak!..”
Abdul Wahid bertanya kembali,… “Jinakkah hatimu dengan yang demikian?..”
Lelaki itu menjawab,.. “Tidak!..”
Abdul Wahid bertanya kembali,.. “Ridlakah engkau dari yang demikian?..”
Lelaki itu menjawab,.. “Tidak!..”
Abdul Wahid bertanya kembali,… “Jinakkah hatimu dengan yang demikian?..”
Lelaki itu menjawab,.. “Tidak!..”
Abdul Wahid bertanya kembali,.. “Ridlakah engkau dari yang demikian?..”
Lelaki itu menjawab,.. “Tidak!..”
Abdul Wahid bertanya kembali,…“Sungguhkah kelebihan engkau adalah dari puasa dan shalat?..”
Lelaki itu menjawab,.. “Yaa!..”
Abdul Wahid lalu berkata,…
“Jikalau tidaklah aku ini malu kepadamu, niscaya aku terangkan kepadamu, bahwa mu’amallah yang engkau lakukan selama 50 tahun itu kesasar. Artinya, tidak terbuka bagi engkau akan pintu hati, yang dimana kelak engkau meningkat kepada derajat-derajat kedekatan dengan amalan hati. (bila kelak demikian) sesungguhnya engkau terhitung pada lapisan ashhabul yamin (golongan kanan). Kelebihanmu daripadanya itu pada amal perbuatan angota badan, yang itu adalah kelebihan bagi orang-orang kebanyakan (awwam).”
(Kitab Ilmu-Ihya Ullumiddin)