Tentara 'Aql dan Jahalah (1)

Dari Sa’ad dan Al Humairi dari Al Baqi dari Ali bin Hadid dari Sama’ah (bin mahran) yang berkata; “Aku pernah hadir dalam majelis Abu Abdillah, disana juga hadir sebagian murid yang lain. Majelis itu membahas masalah 'Aql dan kejahilan. Kemudian Abu Abdillah berkata. “Kalian hendaknya mengetahui 'Aql beserta bala tentaranya dan kejahilan beserta bala tentaranya agar kalian mendapat petunjuk.”

Sama’ah berkata, “Maka aku bertanya, 
‘Semoga jiwaku jadi tebusanmu, aku tidak mengerti kecuali apa yang Anda jelaskan.’
Abu Abdillah menjawab, ...
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Aql sebagai makhluk pertama yang bersifat ruhani. Saat itu ‘Aql terletak di samping kanan arasy yang tercipta dari nurNya. Kemudian Allah berfirman kepada ‘Aql, "Menghadaplah!..". ‘Aql pun menghadap. Allah berfirman, “Berpalinglah!..” Ia pun berpaling. Kemudian Allah berfirman, “Kuciptakan engkau sebagai ciptaan yang agung. Kumuliakan engkau di atas seluruh ciptaanKu.”

Beliau melanjutkan,
“Allah menciptakan Jahl (kejahilan) dari laut asin yang dhulmani (gelap gulita); Kemudian Allah menyuruhnya berpaling dan Ia pun berpaling. Kemudian Allah menyuruhnya menghadap, tetapi Jahl itu tidak menghadap. Allah berfirman kepadanya, “Engkau congkak.’ Lalu Allah mengutuknya. Kemudian Dia menciptakan 75 tentara ‘aql. Melihat hal itu, dengan nada permusuhan Jahl berkata, “Tuhan, ‘Aql adalah makhlukMu, sebagaimana juga aku. Mengapa ia Engkau muliakan dengan kekuatan sedang aku, lawannya, tidak mempunyainya?.. Berilah aku kekuatan seperti dia.” Lalu Allah berfirman, “Baiklah. Tetapi apabila engkau beserta bala tentaramu bermaksiat, maka akan Kukeluarkan kalian dari rahmatKu.” Jahl menjawab, “Aku terima janji itu.” Allah kemudian memberinya 75 tentara. Adapun ke-75 tentara ‘aql dan jahl adalah;

(x)Tentara 'Aql ; (x)Tentara Jahl
(1). Al-Khair (kebaikan) dia adalah wazirnya ‘aql; (1). Asy-Syarra (kejahatan) dia adalah wazirnya jahl.
(2). Al-Iman; (2). Al-Kufur
(3). At-Tashdiq (percaya); (3). Al-Juhuud (ingkar)
(4). Ar-Raja’ (harap); (4). Al-Qunuuth (putus asa)
(5). Al-‘Adl (adil); (5). Al-Jaur (kezaliman)
(6). Ar-Ridha; (6). As-Sukhth (murka)
(7). Asy-Syukur; (7).Al-Kufran (ingkar nikmat)
(8). Ath-Thama’a (gemar kebaikan); (8). Al-Ya’ss (putus ikhtiar)
(9). At-Tawakal; (9). Al-Harsh (ambisius)
(10). Ar-Ra’fah (lemah lembut); (10). Al-Ghirrah (lalai)
(11). Ar-Rahmah (kasih sayang); (11). Al-Ghadab (amarah)
(12). Al-‘ilm (berpengetahuan); (12). Al-Jahlu (bodoh)
(13). Al-Fahm (cerdik); (13). Al-Humq (dungu)
(14). Al-‘Iffah (menjaga diri); (14). At-Tahattuk (ceroboh)
(15). Al-Zuhud; (15). Ar-Raghbah (hasrat)
(16). Ar-Rifq (sopan, santun); (16). Al-Kharq (kasar)
(17). Ar-Rahbah (waspada); (17).  Al-Jur’ah (gegabah)
(18). At-Tawadhu (rendah hati); (18). At-Takabur (tinggi hati)
(19). At-Tu’adah (Tenang); (19). At-Tasarru (tergesa-gesa)
(20). Al-Hilm (bijaksana); (20). As-Safah (konyol)
(21). Ash-Shamt (pendiam); (21). Al-Hadzru (pengoceh)
(22). Al-Istislam (menyerah); (22). Al-Istikbar (menentang)
(23). At-Taslim (mengakui); (23). At-Tajabbur (membandel)
(24). Al-‘Affwu (Maaf); (24). Al-Hiqd (dendam)
(25). Ar-Riqqah (Lunak); (25). Al-Qaswah (Keras)
(26). Al-Yaqin; (26). Asy-Syak (Ragu)
(27). Ash-Shabr; (27). Al-Jaza’ (meronta)
(28). Ash-Shafh (Pemaaf); (28). Al-Intiqam (pendendam)
(29). Al-Ghani (Kaya); (29). Al-Faqr
(30). At-Tafakur; (30). As-Sahw (Lalai)
(31). Al-Hifzh (hafal); (31). An-Nisyan (Lupa)
(32). At-Ta’aththuf (penyambung); (32). Al-Qathi’ah (pemutus)
(33). Al-Qana’ah (merasa cukup); (33). Al-Hirsh (ingin Lebih)
(34). Al-Musawat (emansipasi); (34). Al-Man’u (isolasi diri)
(35). Al-Mawaddah (rasa sayang); (35). Al-‘Adawah (rasa permusuhan)
(36). Al-Wafa’ (memegang); (36). Al-Ghadar (melepas)
(37). At-Tha'at (taat); (37). Al-Ma'shiyat (maksiat)
(38). Al-Khudu’ (rendah hati); (38). At-Tathawul (arogansi)
(39). As-Salamatu (selamat); (39). Al-Bala’ (bencana)
(40). Al-Hubb (cinta); (40). Al-Bughdhu (marah)
(41). Ash-Shidq (jujur); (41). Al-Kidzb (bohong)
(42). Al-Haqq; (42). Al-Bathil
(43). Al-Amanah; (43). Al-Khiyanah (khianat)
(44). Al-Ikhlash (murni); (44). Asy-Syaub (noda)
(45). Asy-Syahamah (cekatan); (45). Al-Baladah (lamban)
(46). Al-Fahm (cendekia); (46). Al-Ghabawah (bodoh)
(47). Al-Ma’rifah (pengenalan); (47). Al-Inkar (penyangkalan)
(48). Al-Madarah (pengukuhan); (48). Al-Mukasyafah (penyingkapan)
(49). As-Salamatul'aib (menjaga aib orang lain); (49). Al-Mumakarat (membuat makar)
(50). Al-Kitman (menyimpan rahasia); (50). Al-Ifsya' (ekspos)
(51). Ash-Shalat (shalat); (51). Al-Idha’ah (penyia-nyiaan)
(52). Ash-Shaum (puasa); (52). Al-Ifthar (berbuka)
(53). Al-Jihad; (53). An-Nukul (lari dari jihad)
(54). Al-Hajj (Haji); (54). Nabdulmiisyaq (ingkar janji)
(55). Menjaga berita (hadits); (55). An-Namimah (membongkar skandal)
(56). Wabirrulwalidayni (berbakti kepada orangtua); (56). Al-'Uquuq (durhaka)
(57). Al-Haqiqah; (57). Ar-Riya’
(58). Al-Ma'ruf; (58). Al-Munkar
(59). As-Satr (menutup aurat); (59). At-Tabarruj (bersolek)
(60). At-Taqiyyah (menyembunyikan); (60). Al-Idz’ah (mengobral kata-kata)
(61). Al-Inshaf (jalan tengah); (61). Al-Hamiyyah (fanatisme)
(62). Al-Mihnah (kebaktian); (62). Al-Baghi (onar)
(63). An-Nazhafah (bersih); (63). Al-Qadzir (kotor)
(64). Al-Haya’ (malu); (64). Al-Khal’ (tidak tahu malu)
(65). Al-Qashd (terarah); (65). Al-‘udwan (tak terarah)
(66). Ar-Rahah (relaks); (66). At-Ta’ab (lelah)
(67). As-Suhulah (kemudahan); (67). Ash-Shu’ubah (kesukaran)
(68). Al-Barakah (berkah); (68). Al-Mahq (binasa)
(69). Al-'Afiat; (69). Al-Bala’ (petaka)
(70). Al-Qiwam (moderat); (70). Al-Mukatsarah (berlebih)
(71). Al-Hikmah; (71). Al-Hawa (Hawa Nafsu)
(72). As-Sa’adah (bahagia); (72). Asy-Syaqawah (Nestapa)
(73). At-Taubah (taubat); (73). Al-Ishrar (keras kepala)
(74). Al-Istighfar  (memohon ampun); (74). Al-Ightirar (pongah)
(75). Al-Muhafadhah (mawas diri); (75). At-Tahawun (lengah)

Ke-75 bala tentara ini tidak akan dipersatukan kecuali pada seorang Nabi, penerus Nabi (wasi) atau seorang Mukmin yang hatinya telah lulus ujian. Selain mereka, mempunyai sebagian. Dan dalam perjalanannya nanti, dia akan menyempurnakan bala tentara 'Aql dalam jiwanya sambil selalu mewaspadai bala tentara Jahl. Setelah itu, baru manusia dianggap sederajat dengan para nabi dan wasi. Tentunya, sebelum mencapai apa pun, manusia mesti mengerti  dan mengenal 'Aql serta bala tentaranya. Mudah-mudahan Allah swt. Memberi taufik kepada kita semua untuk berlaku taat dan mendapat ridhaNya.”

(Biharul Anwar, Bagian Al-Aql wa al Jahl, 1:109-111)

Postingan populer dari blog ini

Rahmat

Kebaikan

Kemenangan