Jihad

Catatan tentang hadits jihad melawan hawa nafsu:

#1 Derajat shahih menurut semua ulama hadits

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya

--H.R. Ibnu An-Najjar, Abu Nu’aim dan Ad-Dailami.

#2 Derajat dhaif menurut ulama. Namun hadits ini ada beberapa versi, salah satunya dikutip Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Sir Al-Asrar, dan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin.

رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ

Versi lainnya dikutip Imam Baihaqi dalam Az-Zuhd Al-Kabir, Imam Suyuti dalam Jami'us-Shagir, Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tawarikh.

قدمتم جير مقدم ، قدمتم من الجهاد الاصغر الى الجهاد الاكبر

***

Asbabul wurud hadits kedua, menurut beberapa kalangan, diucapkan Nabi s.a.w. pasca pulang dari Perang Tabuk.

Tetapi yang menarik adalah riwayat yang disampaikan Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani berikut:

Orang yang pertama-tama  meminta kepada Nabi s.a.w. jalan terdekat _(aqrabu at-thariq)_ kepada Allah adalah Ali bin Abi Thalib r.a. Tapi ketika Ali mengemukakan permintaan itu, Rasulullah s.a.w. menunggu hingga Jibril a.s. turun kepadannya dan kemudian mencontohkan talqin dengan kalimat ini (la ilaha illallah) sebanyak tiga kali. Maka Rasulullah s.a.w. pun mengulang apa yang diucapkan Jibril a.s..

Lalu Rasulullah s.a.w. mentalqin Ali r.a., dan setelah itu mendatangi para sahabat yang lain dan mentalqin mereka semua.

Rasulullah kemudian bersabda: "Kita baru pulang dari jihad kecil menuju jihad besar."

***

Postingan populer dari blog ini

Rahmat

Kebaikan

Kemenangan